Bangsa Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya. Tiap daerah atau masyarakat mempunyai corak dan budaya masing-masing yang memperlihatkan ciri khasnya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai bentuk kegiatan sehari-hari, misalnya upacara ritual, pakaian adat, bentuk rumah, kesenian, bahasa, dan tradisi lainya.
Masyarakat Banda Naira setiap tahun biasanya setelah usai Sholat Idul Fitri meraka mempunyai tradisi Polelei, masuknya tradisi polelei ini belum tahu pasti, namun tradisi Polelei dibawa oleh suku Buton yang merantau ke Maluku (Pulau Banda). Misalnya masyarakat Kelurahan Palahidu dan Rukuwa, Kecamatan Binongko punya tradisi setiap tahun usai salat Idul Fitri. Ini merupakan bukti bahwa tradisi polelei dibawa dari suku buton.
Tradisi Polelei Maluku yang biasanya dilaksanakan di pulau Banda sekarang terus berkembang di Kota Ambon, banyak masyarakat Banda yang merantau dan bekerja di Ambon kebanyakan yang sudah mapan, ada yang bekerja di perkantoran, Kapal minyak, Pengusaha sampai ke pejabat. Dengan hadirnya tradisi Polelei di ambon maka diharapkan seluruh masyarakat Banda yang ada di Ambon untuk ikut bergabung agar tali silaturahum terjaga dengan baik. Kalau di Banda atau Palahidu / Rukuwa Polelei dilaksanakan setelah Shlat Idhul Fitri beda dengan di Ambon, tergantung dari kesepakatan. Kadang lebaran ke-3. Kadang juga karena kondisi jalan yang macet mereka bertemu di satu gedung untuk acara polelei. Bagiku kesemuaan tersebut tidak jadi masalah yang penting tidak mengurangi dari hikmah polelei tersebut.
Pasti ada yang bertanya-tanya apa itu Polelei? Penulis sendiri belum tau pasti, tapi ada yang mengartikan dari kata (POL “ polo” berpelukan) - (EL “ sama-sama”) – (EI “masuk dari satu rumah ke rumah yang lain”) dan kalau disimpulkan “POLELEI” Artinya bersama-sama masuk dari rumah satu kerumah yang lain untuk berpelukan. Ini tradisi yang hebat ! Setelah sebulan penuh berpuasa kemudian di hari yang Fitri mereka secara serempak pergi kerumah-rumah untuk saling berpeluk, berma'af-ma'afan, menyambung dan memperkokoh tali silaurahim ini merupakan tradisi yang sangat positif.
0 komentar: