Tradisi Polelei dan Lebaran
20.17 | Author: Arifin Asida

Bangsa Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya. Tiap daerah atau masyarakat mempunyai corak dan budaya masing-masing yang memperlihatkan ciri khasnya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai bentuk kegiatan sehari-hari, misalnya upacara ritual, pakaian adat, bentuk rumah, kesenian, bahasa, dan tradisi lainya.

Masyarakat Banda Naira setiap tahun biasanya setelah usai Sholat Idul Fitri meraka mempunyai tradisi Polelei, masuknya tradisi  polelei ini belum tahu pasti, namun tradisi Polelei dibawa oleh suku Buton  yang merantau ke Maluku (Pulau Banda).  Misalnya masyarakat Kelurahan Palahidu dan Rukuwa, Kecamatan Binongko punya tradisi setiap tahun usai salat Idul Fitri. Ini merupakan bukti bahwa tradisi polelei dibawa dari suku buton.

Tradisi Polelei Maluku yang biasanya dilaksanakan di pulau Banda sekarang terus berkembang di Kota Ambon, banyak  masyarakat Banda yang merantau dan bekerja di Ambon kebanyakan yang sudah mapan, ada yang bekerja di perkantoran, Kapal minyak, Pengusaha sampai ke  pejabat. Dengan hadirnya tradisi Polelei di ambon maka diharapkan seluruh masyarakat Banda yang ada di Ambon untuk ikut bergabung agar tali silaturahum terjaga dengan baik. Kalau di Banda atau Palahidu / Rukuwa  Polelei dilaksanakan setelah Shlat Idhul Fitri beda dengan di Ambon, tergantung dari kesepakatan. Kadang lebaran ke-3. Kadang juga karena kondisi jalan yang macet mereka bertemu di satu gedung untuk acara polelei. Bagiku kesemuaan tersebut tidak jadi masalah yang penting  tidak mengurangi dari hikmah polelei tersebut.

Pasti ada yang bertanya-tanya apa itu Polelei? Penulis sendiri belum tau pasti, tapi ada yang mengartikan dari kata (POL “ polo” berpelukan) -  (EL “ sama-sama”) – (EI “masuk dari satu rumah ke rumah yang lain”) dan kalau disimpulkan “POLELEI” Artinya bersama-sama masuk dari rumah satu  kerumah yang lain untuk berpelukan. Ini tradisi yang hebat ! Setelah sebulan penuh berpuasa kemudian di hari yang Fitri mereka secara serempak pergi kerumah-rumah untuk saling berpeluk, berma'af-ma'afan, menyambung dan memperkokoh tali silaurahim ini merupakan tradisi yang sangat positif.
|
This entry was posted on 20.17 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: