Inilah Kucing Berwajah Dua Tertua di Dunia
19.15 | Author: Arifin Asida

REPUBLIKA.CO.ID, MASSACHUSETTS - Dua belas tahun sudah, Frank dan Louie, berbagi hidup di tubuh yang sama. Keduanya terlahir siam, menempel dalam satu tubuh dengan dua mulut, dua hidung, tiga mata, dan dua telinga. Hingga hari ini, tak ada gangguan kesehatan yang berarti pada keduanya.

Sara Wilcox, juru bicara Guinness World Records, menyatakan mereka adalah kucing jenis Janus tertua di dunia. Disebut 'Janus' berdasar klasifikasi zoologis Inggris, Dr Karl Shuker, yang menamakannya sesuai nama Dewa Romawi yang bermuka dua.

Frank dan Louie mengalami duplikasi craniofacial, sebuah kondisi kongenital yang sangat jarang. Dikenal juga sebagai diprosopia, individu yang bersangkutan akan memiliki dua wajah yang mirip dalam satu kepala.
Di dunia kucing, kata Wilcox, hal ini sangat jarang terjadi. kalaupun terjadi, biasanya individu yang bersangkutan tak akan hidup lama.
Frank dan Louie lahir pada 8 September  1999. Merayakan ulang tahunnya, nama keduanya dicatat dalam edisi terbaru Guinness World Records yang akan diterbitkan tahun 2012.
Marty, seorang dokter hewan yang juga pemilik kucing itu, menemukannya secara tak sengaja. Tahun 1999, ia kedatangan pengunjung membawa anak kucing seukuran telapak tangannya, memintanya untuk melakukan suntik mati atau eutanasia. Marty menolak. Wanita asal Massacusetts ini menawarkan ganti: sanggup memelihara keduanya.
"Membesarkan kedua, tiap hari bagai sebuah keajaaiban bagi saya," kata Marty.

 Sumber: Republika
Tradisi Polelei dan Lebaran
20.17 | Author: Arifin Asida

Bangsa Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya. Tiap daerah atau masyarakat mempunyai corak dan budaya masing-masing yang memperlihatkan ciri khasnya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai bentuk kegiatan sehari-hari, misalnya upacara ritual, pakaian adat, bentuk rumah, kesenian, bahasa, dan tradisi lainya.

Masyarakat Banda Naira setiap tahun biasanya setelah usai Sholat Idul Fitri meraka mempunyai tradisi Polelei, masuknya tradisi  polelei ini belum tahu pasti, namun tradisi Polelei dibawa oleh suku Buton  yang merantau ke Maluku (Pulau Banda).  Misalnya masyarakat Kelurahan Palahidu dan Rukuwa, Kecamatan Binongko punya tradisi setiap tahun usai salat Idul Fitri. Ini merupakan bukti bahwa tradisi polelei dibawa dari suku buton.

Tradisi Polelei Maluku yang biasanya dilaksanakan di pulau Banda sekarang terus berkembang di Kota Ambon, banyak  masyarakat Banda yang merantau dan bekerja di Ambon kebanyakan yang sudah mapan, ada yang bekerja di perkantoran, Kapal minyak, Pengusaha sampai ke  pejabat. Dengan hadirnya tradisi Polelei di ambon maka diharapkan seluruh masyarakat Banda yang ada di Ambon untuk ikut bergabung agar tali silaturahum terjaga dengan baik. Kalau di Banda atau Palahidu / Rukuwa  Polelei dilaksanakan setelah Shlat Idhul Fitri beda dengan di Ambon, tergantung dari kesepakatan. Kadang lebaran ke-3. Kadang juga karena kondisi jalan yang macet mereka bertemu di satu gedung untuk acara polelei. Bagiku kesemuaan tersebut tidak jadi masalah yang penting  tidak mengurangi dari hikmah polelei tersebut.

Pasti ada yang bertanya-tanya apa itu Polelei? Penulis sendiri belum tau pasti, tapi ada yang mengartikan dari kata (POL “ polo” berpelukan) -  (EL “ sama-sama”) – (EI “masuk dari satu rumah ke rumah yang lain”) dan kalau disimpulkan “POLELEI” Artinya bersama-sama masuk dari rumah satu  kerumah yang lain untuk berpelukan. Ini tradisi yang hebat ! Setelah sebulan penuh berpuasa kemudian di hari yang Fitri mereka secara serempak pergi kerumah-rumah untuk saling berpeluk, berma'af-ma'afan, menyambung dan memperkokoh tali silaurahim ini merupakan tradisi yang sangat positif.
Bulan Bakti Karantina Pertanian Ambon
18.15 | Author: Arifin Asida
 Penyelenggaraan Bulan Bakti Karantina Pertanian yang dicanangkan setiap tanggal 8 Juni  merupakan momentum public awareness Badan Karantina Pertanian,  bertolak dari diundangkannya UU Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Namun sebenarnya penyelenggaraan karantina pertanian di Indonesia sudah dimulai 134 tahun yang lalu melalui terbitnya Ordonansi 19 Desember 1877 (Staatsblad No. 262).  
 Luasnya wilayah Indonesia yang tidak sebanding dengan sarana, prasarana serta jumlah SDM Badan Karantina Pertanian dalam melaksanakan amanah UU No. 16/1992 ini, sehingga diperlukan partisipasi dan dukungan secara aktif masyarakat Indonesia dalam melindungai kekayaan alam hayati dan perekonomian Indonesia.
Bulan Bakti Karantina Pertanian merupakan momentum kampanye public awareness perkarantinaan yang dapat digunakan untuk mengarahkan, mendorong dan menggerakan masyarakat dalam pelaksanaan perkarantinaan melalui kegiatan yang berhasil dan berdaya guna.
 Karantina Pertanian sebenarnya sudah eksis dari 134 tahun silam. Waah...!! ternyata sudah lama juga ya kalau di bandingkan dengan usia saya kira-kira beda berapa tahun ya? Hehehehe ...JJJ ternyata bedanya 1 abad. Jadi malu neh.... coba kita lihat sejarah karantina pertanian di bawah ini..
 Pada Tahun 1877 sudah dicetuskan peraturan perundang undangan yang berkait dengan karantina (tumbuhan), yakni Ordonansi 19 Desember 1877 (Staatsblad No.262) tentang larangan pemasukan tanaman kopi dan biji kopi dari Srilanka.
 Pada tahun 1914 sebagai tindak lanjut dari Ordonansi 28 Januari 1914 (Staatsblad No.161) penyelenggaraan kegiatan perkarantinaan secara institusional di Indonesia secara nyata baru dimulai oleh sebuah organisasi pemerintah bernama Instituut voor Plantenzekten en Cultures (Balai Penyelidikan Penyakit Tanaman dan Budidaya). Untuk info sejarah Barantan lebih detail klik di http://karantina.deptan.go.id



Setelah kegiatan sosialisasi kami selesai, kami langsung ke Pantai Desa Liang yang merupakan salah satu tempat Wisata di Maluku.


Ada yang berpose dengan gaya mereka masing-masing. Padahal waktu pengambilan gambar tidak di atur untuk bergaya  tapi itu merupakan gaya refleks. Kelima orang ini langsung cepat-cepat kedepan kamera tanpa basa-basi langsung di jepret...!!! hasilnya keren kan? hahaha..


Nah..!!! Kalau yang ini baru di ambil dengan gaya yang sempurna katanya sich foto ini akan di pajang di kantor.. Lucu ya...


Big Bos saat berpose dengan Karantinawan-Karantinawati


Dari kanan: Pa Gatot, Ibu Umi, Ibu Eva dan Fin's


Foto Bersama: Saat kegiatan Sosialisasi Karantina Pertanian di Desa Liang tahun 2010



Bapak Drh. I Putu Terunanegara (Pak Putu) Saat menyerahkan baju kaos Sosialisasi Karantina Pertanian ke masyarakat Desa Liang


Dari kanan: Fin's & Abe (Abdullah) - Laki-laki saDaaaaP....=;


Dari Kanan: Ibu Nova, Ibu Umi (Umi Kulsum Lubis), Ibu Poni, Ibu Eva dan Ibu Yetni