WISATA ALAM KEPULAUAN BANDA
22.04 | Author: Arifin Asida


Kepulauan Banda  terdiri dari sepulu pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ± 140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan sesluas 180 km2 ini termasuk dalam wilayah Propinsi Maluku. Kota terbesarnya, Banda Neira, terletak di pulau dengan nama yang sama. Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.

   Tepi dermaga laguna terlihat air laut sebening kaca mementulkan refleksi violet, biru magenta dari langit pagi, sementara di bibir puncak gunung, masih tampak bongkahan batu dan tanah-tanah hitam sisa sisa erupsi.Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis. Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil berdendang.


 
 Berpetualang di kepulauan eksotik yang pernah didatangi para selebritis dunia seperti Princess of York, Sarah Ferguson sampai Mick Jagger. Tidak begitu mudah penerbangan dari Ambon di lanjutkan dengan kapal Pelni tidak menentu atau boat carteran. 

Dari Bandara menuju pelabuhan besar Yos Sudarso di teluk Ambon. Bulan baik mengunjungi pulau Banda adalah bulan April – May atau September samapai November, dimana cuaca bersahabat dan laut sangat tenang. Di luar bulan bulan tersebut, musim barat mebuat laut Banda menjadi sangat berbahaya untuk di arungi denga kapal-kapal kecil.

Setelah 7 jam mengarungi laut lepas, terlihat mulai ada burung burung berterbangan, dan itu artinya sudah dekat dengan daratan. Ternyata tak beberpa lama terlihat dikejauhan sebuah sosok samar daratan. Bersamaan dengan mulainya terbenam matahari dari ufuk barat. Tepatnya 9 jam perjalanan, kapal boat merapat di dermaga Maulana Hotel, Banda Naira. Pukul 6 pagi di iringi dengan suara-suara butung , tampak bangunan hotel bertingkat sederhana model spanyol, dengan sebuah pohon kenari raksasa di depan serambi Hotel, tepat menghadap laguna teluk Banda dan diseberangnya berdiri kokoh sebuah gunung berapi setinggi 1.000 meter yang disebut Gunung Api.



Hotel Maulana terletak di Naira, di pulau Banda kecil yang pernah menjadi incaran pedagang seluruh dunia abad pertengahan. Kilas balik sejarah menjelaskan ketika armada, conquistador Alfonso de Alburque-que dari Portugis menaklukan Malaka tahun 1511 yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia. Ia sudah mempersiapkan ekspedisi besar ke Maluku dan Banda Neira, Sebagai pusat produsen rempah-rempah dunia. Dengan bantuan penunjuki jalan dari Malaka, armada Potugis bisa mencapai Banda Neira pada tahun 1512 – 1514, sampai akhirnya terusir oleh armada VOC. Berjalan-jalan di Banda Neira membangkitkan kenangan akan situasi akan colonial jaman dahulu. Hampir seluruh rumah-rumah atau gedung-gedung berarsitektur colonial terawat dengan baik, dan masih dipakai sampai sekarang.

Sudut-sudut Kota, Jalanan serta bangunan yang ada tetap merefleksikan kehidupan yang sama ratusan tahun yang lalu. Masjid yang dipakai oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di pulau ini, masih terus dipakai oleh masyarakat sana. Demikian pula dengan gedung atau rumah peninggalan kolonial yang kini dipakai menjadi kantor , sekolahan serta Hotel kecil disekitar Banda Neira. Petualangan menyelam di salah dive spot terbaik didunia. Kepulaun Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Memang akibat letusan gunung berapi telah merusak sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penelitian dari UNESCO akibat dari fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini paling cepat didunia.. Jika ditempat lain, terumbu karang bisa memakan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa. Di pulau Banda Besar hanya membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh tahun. Menyelam dikepulaun Banda memang menakjubkan, clear vicibility bisa mencapai 40 meter serta itu membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas.


Hampir semua area penyelaman di Pulau Banda Besar, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir sampai didermaga Banda Neira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin di lihat di tempat lain di dunia. Mata kami benar-benar di manjakan dengan warna-warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Belum lagi dengan ikan-ikan yang dengan eloknya berkeliling berdekatan tanpa menghiraukan kehadiran kami. Sesekali kelompok lumba-lumba menemani sambil melompat disisi kapal boat yang membawa kami titik-titik penyelaman di kepulaun Banda.

Berkunjung ke mesium budaya disini kita bisa melihat catatn sejarah yang ada. Barang-barang peninggalan VOC, serta yang menarik adalah lukisan-lukisan mengenai situasi jaman tersebut. Tepat di tengah ruang utama mesium, tergentung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian  44 orang terpandang dari Banda. Mereka biasa disebut dengan orang-orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Fort Nassau. Kemudian didepan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibantai secara kejam oleh algojo-algojo samurai yang di sewa dari jepang.

Setelah VOC menecapkan kuku monopoli perdagangan, mereka membangun sebuah peradaban baru di Banda Neira yang nantinya akan merupakan blue print pembangunan kota Batavia kelak. Istana Merdeka di Jakarta yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mencontohi replica gedung Istana mini yang masih berdiri di Banda Neira. Demikian pula gereja Immanuel di depan Stasiun gambir memiliki arsitektur yang sama denga gereja disini yang sayangnya telah dirusak oleh massa pengungsi kerusuhan Ambon beberapa waktu yang lalu. Kalau kita memperhatikan sudut-sudut kota tua di Jakarta, akan sama juga dengan komposisi sudut bangunan dan jalanan di sana. Saya membayangkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk pembuatan syuting syuting film mengenai era colonial, karena struktur bangunan dan kotanya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

Benteng VOC, Fort Belgica yang dibangun diatas sebuah bukit, dan bisa ditempuh setengah jam berjalan kaki dari Hotel Maulana. Mengagumkan sekali pemilihan letak posisi benteng tersebut, karena dari puncak benteng bisa terlihat ke arah laut dari segala sisi pulau. Ini memudahkan VOC untuk mengewasi kapal-kapal yang keluar masuk Banda pada saat itu. Rumah-rumah yang dulu ditempati Bung Hatta dan Bung Sjahrir masih terawat denga baik, berikut dengan barang-barang peninggalan mereka. Dari mesin tik yang mereka pakai saat itu sampai ruan kelas dibelakang rumah, tempat Bung Hatta mengajar terhadap anak-anak Banda. Menjelajah alam bawah airnya yang mempesona, serta menikmati sisa-sisa kehidupan masa silam yang eksotis. Perkebunan pala dan kenari. Perjalanan masuk menembus hutan pala sangat mengasyikan, udara segar dan suara burung kakak tua di kejauhan. Tampak pohon berusia ratusan tahun yang menjadi saksi perdagangan rempa-rempah.

Sumber : http://wisatamaluku.wordpress.com
|
This entry was posted on 22.04 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: